Kemenangan

Saat pertemuan menciptakan persaudaraan. Kemudian persaudaraan menjadikan hati bertaut dalam berbagai jenis persamaan, serta toleransi akan perbedaan.

Suatu masa dimana setelah tidak bertemu raga sekian lama, lalu saya berada di dalam sebuah forum gathering yang penuh makna dan suka cita. Karena banyak orang yang sebelumnya adalah teman, seketika saya rasakan menjadi saudara saat telah jauh berpisah dan bertemu lagi dengan banyak cerita baru.


Tentang hidup.

Seorang pria yang belum paruh baya namun ubannya sudah bermunculan dimana-mana, dengan dua anak perempuan yang sangat cantik kebanggaannya. Adalah Pembina saya, sejak dulu saat hidup masih bergelut dengan janji-janji prestasi mahasiswa. Masih Pembina saya, sekalipun tanggungjawabnya pada tanggungjawab saya telah berakhir. Dan akan tetap menjadi Pembina sekalipun nanti, saat anak saya akan saya ajarkan memanggilnya Kakek.

Kala itu kami berbicara tentang banyak hal. Kemudian saya sedang berada dalam fase hidup dimana kecil sekali kemungkinan orang tidak akan menanyakan jodoh kepada saya. Apa lagi yang akan saya lakukan selain menjawab seadanya. Tidak tentang carut-marut dalam hati. Tidak tentang depresi kecil yang kadang juga datang pada diri. Tapi saya jawab dengan keadaan bahwa saya sedang dan masih sendiri.

Kemudian ia bercerita tentang apa yang ia lalui sebelum ia menjadi beruban seperti saat ini.
Tentang jodoh yang tidak bisa dipaksakan. Tentang keyakinan yang tidak boleh terkikis keraguan. Tentang cinta yang datangnya dari Tuhan.

Kemudian saya terkejut dengan kenyataan bahwa saya menyia-nyiakan waktu, hidup, untuk tidak melakukan banyak hal yang diceritakannya. Saya tertampar akan kenyataan bahwa saya begitu angkuh dengan kedok kesombongan sibuknya dunia, sehingga saya tidak banyak bercerita kepada Tuhan, tentang segala gundah yang saya rasakan.


Diskusikan kepada Tuhan.

Benar, saya adalah orang yang selalu meminta ini dan itu kepada Tuhan. Tentu saya juga meminta jodoh terbaik dari Tuhan. Namun saya tersadar bahwa permintaan-permintaan saya terlalu sepihak. Saya tidak mendiskusikannya kepada Tuhan. Saya hanya meminta bahkan permintaan saya terasa seperti memaksa. Saya kurang banyak menyadari jawaban-jawaban dari Tuhan dan masih terus berfokus pada permintaan-permintaan saya. Saya kurang banyak bersabar dan ikhlas akan jawaban-jawaban yang saya dapatkan.

Bukankah ketika kita sudah berusaha dengan batasan kemampuan kita, lalu kita meminta kepada Tuhan, kemudian apa yang dihadapkan kepada kita, itulah jawaban dari doa-doa kita selama ini? Bukankan penerimaan adalah hal yang paling mendasar yang harus kita siapkan sebelum kita banyak meminta? Setidaknya, untuk saat ini, keadaan apa yang kita hadapi, itulah jawaban atas rahasia-rahasia hidup yang harus kita yakini.


Rumah tangga adalah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kemenangan dua pihak.

Setelah sekian lama merasa harus menjadi bagian dari dominasi opini yang berkembang di pemikiran masyarakat luas, maka kali ini saya merasa dilahirkan kembali. Dilahirkan kembali untuk tetap bercita-cita dan tidak menyerah dengan keadaan yang terjadi karena opini yang terlanjur berkembang sejak zaman nenek moyangnya nenek moyang kita.

Baginya, rumah tangga adalah kebahagiaan. Kebahagiaan tidak bisa dicapai apabila ada pihak yang harus menang dan yang terpaksa dikalahkan. Bahwa sinergi adalah kunci dari kebahagiaan yang akan mengalir selama usia rumah tangga. Bahwa mengalahnya seorang wanita secara terus-menerus karena menyadari kodratnya sebagai pihak yang tidak berhak mengarahkan arah tujuan bahtera berjalan, adalah salah satu kemungkinan yang menyebabkan kebahagiaan terluka. Bahwa kebahagiaan akan dicapai apabila dua orang yang memutuskan untuk saling mencintai juga sekaligus memutuskan untuk saling menghargai dan menyemangati, mendukung sampai mati.

Di atas segalanya, keputusan bersama yang dicapai atas dasar pertimbangan dan dukungan, yang menyebabkan perempuan menyadari kodratnya sebagai pihak yang berjalan bersisian, membantu melihat arah angin agar bahtera tidak terkoyak dan tetap berlayar gagah, adalah kebahagiaan. Bahwa kebahagiaan adalah kemenangan bersama. Bukan kemenangan sepihak.

Untuk lelaki masa kini yang dalam era globalisasi dan demokrasi masih memaksakan kehendak untuk menang mutlak dari wanita pada pertem(p)uan pertama.

Untuk lelaki masa kini yang harus menyadari bahwa wanita yang akan melahirkan anak yang lucu dan cerdas adalah bukan wanita yang selalu dikalahkan oleh pemaksaan untuk menerima titah yang dihambakan dengan nama kodrat.



Untuk wanita masa kini, teruslah berkembang, teruslah menjadi kuat. Tetaplah menjadi wanita. Dukunglah lelaki masa kinimu itu, yang telah kuat dan akan menjadi lebih kuat saat berada  di sampingmu. Bahwa kebahagiaan adalah kemenangan bersama. Bahwa kebahagiaan bukanlah hasil yang kau kejar di ujung pelayaranmu. Bahwa sepanjang perjalananmu, kebahagiaan tak pernah pergi melepaskan diri darimu, iya kamu, kamu berdua.

Pekanbaru, Oktober 2016
Selfnote

Comments

Popular Posts