misteri ojek berduri
Aku punya teman yang namanya terpaksa disamarkan demi kelangsungan harkat dan martabatnya di masa mendatang. Namanya adalah dyan. Samarnya, dyan. Dyan ini satu SMP SMA dan satu kampus sama aku, tapi ngambil kuliah Komunikasi. Walau udah sering ketemu, kita baru kenal dekat pas kelas 2 SMA, duduk sebangku. Dan setelah hampir seminggu duduk sebelahan sama dia, aku pun tau kalo Dyan punya hobi merusak nama orang. Termasuklah aku yang entah karena takdir apa. Aku dipanggil Mak sama dia. Setelah setahun berubah jadi Mommy. Alasannya, karena aku sering sakit perut sakit pinggang sekali sebulan. Dan sering berpetuah. Yaelah. Suka-suka lah yan..
Dyan ini Pimred majalah sekolahku dulu, pas masa kejayaan kita. Eh iya, aku jadi ingat pas kelas dua dulu kelasku itu isinya orang-orang besar semua. Semua ekskul, hampir semua, dari sejuta mungkin cuma sebji ekskul yang ketuanya bukan anak kelasku. Dan aku? Aku pun punya prestasi tak kalah gemilang. Sebangku sama Pimred, aku jadi redaktur. Sederetan sama ketua Rohis, aku jadi ketua divisi kedisiplinan (kesalahan terbesar selama kepemimpinanmu, ketua. Haha..). dari anggota yang hobinya telat datang dan cuma ngerumpi di setiap sidang, aku pun naik pangkat jadi ketua komisi A di MPK, yang sampai sekarang aku ga tau kerjanya apaan. Selain sidang dan sidang, yang kalau boleh jujur, sangat tak berguna kecuali mengembangkan bakat berdebat tiada akhir dan tiada hasil. Hahahahaha… peace ^^
Oke, kembali ke dyan. Dyan ini rumahnya dekat SMA. Jadi kalo dari rumahku ke rumahnya paling tujuh menitan aja, kalo lewat tol jalan tikus. Jadi kita berdua sama-sama dapat beasiswa semester ini. berhubung sekampus yang dapat beasiswanya cuma seupil, jadilah aku selalu bareng dyan kalo urusan beasiswa-beasiswaan. Soalnya sama yang lain ga kenal. Dan setelah serentetan proses beasiswa yang bikin napsu membunuh mengalahkan napsu makan, tak pernah sekalipun aku dan Dyan ini tidak terlambat. Akar masalahnya selalu ada padaku. Selalu saja ada tragedi-tragedi mendadak tak beradab yang menghambat saat aku mau menjemput Dyan.
Kunci motor ilang. Aku udah mau nangis. Abangku pulang, dengan tampang tak berdosa ngasi kunci motor yang terbawa olehnya ke aku yang tak bisa berkata apa-apa lagi saat menyadari waktuku untuk sampai ke kampus cuma sepuluh menit, yang 7 menitnya habis buat jemput Dyan.
Ketiduran setelah subuh. Tak perlu dibahas.
Kemarin, motorku dipake abang ke pasar pagi buat beli sayur. Pulang jam 8.14. Sebelum berangkat aja aku sudah telat 14 menit. Tuhaaaan… haruskah motorku? FYI, abangku ini punya hobi mengembalikan motorku dalam keadaan tak berprikemotoran. Kotor berlumpur, bensin yang awalnya penuh jadi habis, ban kempes. Dan kadang dengan baik hatinya dia bilang, “motor minta serpis tuh. Ga enak makenya.”
Yang semaput dengan keadaan ini ya Dyan lah. apalagi setelah depresi membayangkan peluangnya untuk tidak mati muda sebelum sempat nikah cuma sisa 5% saja. Apa lagi yang bisa kulakukan selain ngebut? Dyan tidak bisa protes apa-apa selain teriak aaaaa, momiiiii, beristighfar, mencengkeram bahuku, dan mungkin menggigil di boncengan. Akupun tidak menginginkan ini terjadi Yan.. tapi yang jelas selama ini asmamu tak pernah kambuh saat kubonceng kan? hahahahaha
Dyan ini Pimred majalah sekolahku dulu, pas masa kejayaan kita. Eh iya, aku jadi ingat pas kelas dua dulu kelasku itu isinya orang-orang besar semua. Semua ekskul, hampir semua, dari sejuta mungkin cuma sebji ekskul yang ketuanya bukan anak kelasku. Dan aku? Aku pun punya prestasi tak kalah gemilang. Sebangku sama Pimred, aku jadi redaktur. Sederetan sama ketua Rohis, aku jadi ketua divisi kedisiplinan (kesalahan terbesar selama kepemimpinanmu, ketua. Haha..). dari anggota yang hobinya telat datang dan cuma ngerumpi di setiap sidang, aku pun naik pangkat jadi ketua komisi A di MPK, yang sampai sekarang aku ga tau kerjanya apaan. Selain sidang dan sidang, yang kalau boleh jujur, sangat tak berguna kecuali mengembangkan bakat berdebat tiada akhir dan tiada hasil. Hahahahaha… peace ^^
Oke, kembali ke dyan. Dyan ini rumahnya dekat SMA. Jadi kalo dari rumahku ke rumahnya paling tujuh menitan aja, kalo lewat tol jalan tikus. Jadi kita berdua sama-sama dapat beasiswa semester ini. berhubung sekampus yang dapat beasiswanya cuma seupil, jadilah aku selalu bareng dyan kalo urusan beasiswa-beasiswaan. Soalnya sama yang lain ga kenal. Dan setelah serentetan proses beasiswa yang bikin napsu membunuh mengalahkan napsu makan, tak pernah sekalipun aku dan Dyan ini tidak terlambat. Akar masalahnya selalu ada padaku. Selalu saja ada tragedi-tragedi mendadak tak beradab yang menghambat saat aku mau menjemput Dyan.
Kunci motor ilang. Aku udah mau nangis. Abangku pulang, dengan tampang tak berdosa ngasi kunci motor yang terbawa olehnya ke aku yang tak bisa berkata apa-apa lagi saat menyadari waktuku untuk sampai ke kampus cuma sepuluh menit, yang 7 menitnya habis buat jemput Dyan.
Ketiduran setelah subuh. Tak perlu dibahas.
Kemarin, motorku dipake abang ke pasar pagi buat beli sayur. Pulang jam 8.14. Sebelum berangkat aja aku sudah telat 14 menit. Tuhaaaan… haruskah motorku? FYI, abangku ini punya hobi mengembalikan motorku dalam keadaan tak berprikemotoran. Kotor berlumpur, bensin yang awalnya penuh jadi habis, ban kempes. Dan kadang dengan baik hatinya dia bilang, “motor minta serpis tuh. Ga enak makenya.”
Yang semaput dengan keadaan ini ya Dyan lah. apalagi setelah depresi membayangkan peluangnya untuk tidak mati muda sebelum sempat nikah cuma sisa 5% saja. Apa lagi yang bisa kulakukan selain ngebut? Dyan tidak bisa protes apa-apa selain teriak aaaaa, momiiiii, beristighfar, mencengkeram bahuku, dan mungkin menggigil di boncengan. Akupun tidak menginginkan ini terjadi Yan.. tapi yang jelas selama ini asmamu tak pernah kambuh saat kubonceng kan? hahahahaha
Comments
Post a Comment