Membangun Hululais

Gais. Inilah hidup ya. Tentang apa yang kamu pilih dan apa yang dihadapkan kepadamu setelah itu. Untuk ukuran baru menjalani hidup seperempat  abad ini mungkin pandangan dan penilaian saya terhadap hidup belum sepantasnya untuk memulai cerita ini dengan kalimat “inilah hidup ya”.

Yasudah, kalau begitu saya akan ganti dengan cerita lain. Inilah Lebong, Bengkulu. Negeri yang Indah di balik gunung dan pegunungan Indonsia Raya. Udaranya segar sepanjang hari. Mataharinya terik dan berkilau. Malamnya dingin dan menjaga. Dikeliingi pohon-pohon besar tua dan kebun masyarakat. Menemukan fauna-fauna baru yang menawan dan ajaib.

Jalan berbatu yang setiap pagi dilalui oleh petani kopi dengan keranjang di punggung yang ditumpukan di kepala. Disitu pula mobil proyek bersisian setiap pagi menuju lokasi proyek.
Yaaaah. Kecewa ya? Hihi. Iya, ini bukan tentang cerita menyenangkan, ini cerita tentang pekerjaan. Terjebak ya. Hihi terimalah jebakan kehidupan ini.

Gais, berada jauh dari rumah untungnya dibarengi dengan pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya. Dari sangat pagi hingga hampir tengah malam, mobil proyek standby untuk menjemput berangkat dan mengantar pulang. Syukurlah, karena kalau kehidupan di sebelah sini yang jauh dari rumah ini santai-santai saja, maka tentu saja airmata akan mudah bercucuran mengingat rumah yang ditinggalkan berisi orang-orang pengisi hati.

Dan inilah Bengkulu. Inilah Lebong. Inilah Hululais. Inilah Proyek Infrastruktur Pengeboran PT. Pertamina Geothermal Energy. Semua orang mencari remah-remah mimpi, bangun dengan asa setiap hari, jauh dari orang yang dikasihi, semua demi mimpi. Entah semua entah tidak, namun aku demi mimpi dan demi hidup yang dijalani. Karena untuk apalagi hidup tanpa menjalani jalan yang diberikan dari usaha-usaha melangkah setiap hari.


 Jauh dari peradaban, jauh dari kota, jauh dari kehidupan hedonisme, jauh dari makanan siap saji, jauh dari warung bakso dan sate sekalipun, jauh dari bank, jauh dari rumah sakit, jauh dari perkampungan, namun dekat dengan alam. Dekat dengan alam, dan bukankah selama ini kita sudah muak dengan kehidupan kota yang menyebalkan? Inilah pemandangan hutan dan gunung yang kita cari setiap ingin menyembuhkan diri dari hiruk pikuk kota. Inilah waktunya menikmati liburan yang panjang. Maka nikmatilah. Bekerjalah. Demi diri. Demi mereka. Demi Negara. Indonesia Raya.
(endingnya udah bikin saya bisa nyalon jadi gubernur belum?)

Hululais, Juli 2016
Waskita Karya Hululais Project Basecamp

Comments

Popular Posts