Hati Nurani?
Apa kabar hati nurani?
Wahai teman, dunia ini begitu keras. Ketika di kehidupan
normalmu sebelumnya hatimu mudah tersentuh oleh anak jalanan yang menjual
koran, ibu-ibu menggendong anak di persimpangan, bapak-bapak tua yang memanggul
tumpukan batang sapu di bahunya. Maka episode hidup kali ini membawamu pada
scene dengan setting satu petak site project yang terisolir karena berada di
tengah hutan yang jauh dari akses menuju kehidupan manusia. Dengan pemeran manusia-manusia tangguh yang berkorban kehilangan
beberapa sisi kebebasan hidup demi sesuatu lainnya. Demi hidup dan kehidupan
kukira.
Maka scene berikutnya adalah para pekerja kasar. Para pria
muda dan paruh baya dan yang sudah dalam gurat wajahnya. Bekerja dengan helm,
sepatu boot, serta rompi pekerjanya. Jauh dari rumah dan keluarga. Penuh peluh
pastinya. Lelah pastinya. Rindu pastinya.
Scene berikutnya adalah seorang wanita di tengah rimba dan "rimba" manusia. Seorang diri menjaga diri dari berbagai
bentuk jenis ancaman dan godaan. Menurutmu apa yang harus dilakukannya di
tengah rimba yang mungkin beberapa diantara kita tak mau sekedar
membayangkannya.
Maka dunia ini begitu keras ketika kau tak lagi boleh
menyapa dan senyum ramah kepada siapa saja semaumu seperti di kota sana. Karena
tempat ini dipenuhi pekerja yang tidak pulang berbulan-bulan dan hanya ada satu
wanita disini.
Bisakah kelebat sedih dan kasihan diabaikan dari pemandangan
pekerja beruban yang menggotong besi atau memecahkan batu di terik panas matahari? Mungkin kalau ini
terjadi tidak di hutan dan tidak hanya ada satu wanita, mungkin kalau ini hanya
terjadi sekali saja padamu saat kau lewat dan melihat, maka mungkin saja kau akan menyapa dan mungkin
memberikannya minum bukan?
Namun dunia ini begitu keras. Ketika kau tak bisa menjaga
senyum dan keramahanmu pada batasan wajarnya, maka kau akan diganggu. Bukankah
saat ini kau hanya satu-satunya wanita diantara ratusan lelaki itu? Maka menjaga
diri tidak semudah yang kau bayangkan.
Maka kini tak ada lagi iba yang bisa ditampilkan lewat gurat
wajah dengan segala pemandangan pilu dan rindu itu. Tak ada lagi sapaan dan
senyum ramah yang biasanya dengan mudah bisa saja keluar dari mulutmu saat kau
melihat sosok orang yang lebih tua yang secara general harus kau hormati.
Namun
dunia ini menjadi begitu keras dimana kau hanya bisa melihat mereka
tidur di tenda-tenda penuh kedinginan. Diangkut dalam bak truk saat
mobilisasi. Sementara hidupmu serba cukup dan lengkap dengan
bentuk-bentuk kompensasi.
Namun
dunia menjadi begitu keras dimana mereka harus menggangguk dan menunduk
saat lewat di depanmu. Saat pekerjaannya dievaluasi dan disuruh
mengganti. Saat lobi-lobi dan harga mengerucut ke keuntungan untukmu.
Saat upah yang mereka terima menjadi begitu berharga karena beratnya
berusaha.
Wahai hati nurani, sudikah kembali?
Hululais, September 2015
Waskita Karya Hululais Project Basecamp
Waskita Karya Hululais Project Basecamp
Comments
Post a Comment