Membangun dan Menerangi Negara
Halo penghujung April. Caturwulan pertama tahun ini penuh cerita ya?
Judulnya bernuansa bulan Agustus ya? Haha ini masih April kok.
Masih ingat dengan jawaban-jawaban ringan tanpa beban untuk setiap jenis pertanyaan yang dijawab dengan tahun depan dan tahun depan? See? Tahun depan itu dekat. Kerja siang, Pulang malam. Bangun pagi. Makan malam. Tiba-tiba udah mau ulangtahun lagi aja?
Semoga juga begitu dengan tahun-tahun ke depan yang rasanya sangat lama untuk dinanti berakhir. Toh ternyata waktu berlalu begitu cepat? Semoga janji-janji untuk beberapa tahun ke depan akan terselesaikan dengan baik dan tanpa terasa. Tentu saja terasa, Siapa yang tidak lelah bekerja? Namun ketika dijalani, satu-persatu terselesaikan. Ya, terselesaikan kalau dikerjakan.
Ah ya, Project kali ini belum pernah dipublish ya? Setelah Hululais, kali ini kita akan menghabiskan waktu pengabdian untuk menerangi negeri. Terdengar manis bukan? Tentu saja ini mengharukan kalau saja kita mau berpikir begitu. Walaupun teman-teman lainnya menghabiskan waktu pengabdian mereka dengan membangun gedung super tinggi trilyunan untuk pihak swasta yang nantinya ketika berdiri kokoh akan menerbitkan perasaan "nyess" di hati, puas, bangga, bahagia. Namun menerangi negeri tak kalah pentingnya.
Aku yang awalnya tidak begitu antusias dengan project kali ini, disadarkan oleh sebuah pola pikir yang begitu menentramkan. Bahwa tanpa membangun gedung super tinggi pun, project ini sangat keren mengingat tujuannya adalah untuk bangsa.
Hingga saat ini, berapa banyak daerah yang belum dialiri listrik di negeri kita ini? Walaupun aku tidak tahu pasti, namun selama bepergian ke banyak daerah pedalaman di Sumatera, Provinsiku lebih tepatnya, listrik adalah fasilitas mahal dimana hanya menyala pada malam hari, bahkan di beberapa pulau kecil di pesisir Sumatera lampu hanya menyala dengan tenaga diesel.
Miris mengingat betapa kita dengan mudahnya menyela dan mengeluarkan sumpah serapah kepada perusahaan penyedia listrik negara ketika listrik padam di kota kita yang megah. Maka kita harus pernah mengganti destinasi liburan kita ke pulau-pulau terpencil yang sejatinya bukan menjadi destinasi wisata. Lihatlah bagaimana mereka hidup dalam keterbatasan dan masih tetap "hidup" tanpa banyak mengeluh.
Membangun tower PLN? Project seperti apa itu? Membangun gedung apartemen 30 lantai terdengar lebih prestisius. Namun nanti, ketika tower-tower ini berdiri dan dialiri arus, maka setiap lampu yang menyala di rumah-rumah warga adalah zikir kita kepada Allah. Bagaimana mungkin? Ya, apabila project ini dikerjakan dengan niat ibadah, benar sesuai spesifikasi teknis dan mutu, maka bagaimana mungkin ini nantinya tidak akan menjadi zikir bagi kita yang berperan di dalamnya?
Semangat membangun negara, buinsinyur ^^
Semangat menerangi negeri ^^
Pekanbaru, April 2016
Waskita Karya Divisi Regional Barat,
Waskita Karya Divisi Regional Barat,

Comments
Post a Comment