Lunch Talk

Mei 2016 dan hampir tiga per empat hari dalam bulan ini saya habiskan untuk mengikuti berbagai macam pelatihan dari kantor regional maupun kantor pusat.
Semuanya beragam, mendebarkan (pre-test dan post-testnya), dan menyenangkan. Beberapa diantaranya terkait pengendalian mutu, pelatihan ERP (pelaporan internal manajemen berbasis software, yang saya seperti pertama kalinya belajar komputer lagi, bahkan lebih sulit), serta sharing session perusahaan yang isinya tentang saham perusahaan, laba, prestasi, visi, target, dan segala hal yang berkaitan tentang mencintai perusahaan. To be honest, yes, membuat saya jadi lebih semangat saat pulang.

Namun di sela-sela aktivitas mengikuti beragam kegiatan pelatihan selain kegiatan rutin ngantor (betapa menyenangkannya libur kerja haha!), pertemuan dengan banyak rekan-rekan dari seluruh penjuru area penempatan, memberikan saya pertanyaan  dan pernyataan yang menyulitkan.

"Apa sih yang kita cari dalam hidup?"
"Kenapa?"
"Kita sampai terlambat solat ashar sejam lebih hanya karena kita takut kehabisan waktu menjawab soal-soal"

Aku terenyuh. Adalah Amir, rekan kerja seangkatanku, yang secara usia lebih muda dariku, yang sangat mengakuiku sebagai kakaknya terlepas dari kami saudara se-Islam, kami adalah saudara sesuku. Amir adalah sosok yang aneh, untuk versi pandangan orang secara umum. Dia selalu menjadi sosok yang frontal, dan kadang tidak dipedulikan lingkungan, karena dia punya pola berpikir berbeda dari kebanyakan orang. Namun aku selalu bisa memahaminya dan tak pernah terlibat perseteruan dengannya karena aku adalah orang yang selalu menghindari perdebatan dan suka mengalah bila itu lebih baik.

"Kalau gajian telat saja kita ribut, tapi kita selalu lalai untuk shalat" 

Aku terenyuh lagi. Ini Amir, adikku. Membanggakan melihat pria di usia yang masih sangat muda bisa berpikir untuk tanggung jawab dirinya, tidak serta merta hanya berusaha keras untuk pencapaian kehidupan dunia. Sementara sangat banyak anak muda lain di luar sana yang hanya berpikir tentang hidup senang dengan mengandalkan kompensasi-kompensasi dari takdir dilahirkan sebagai orang berada.

Bagaimana kita bisa diberikan kenikmatan terdepan saat kita tidak mengedepankan Sang Maha Pemberi Nikmat? #selfnoted

Pekanbaru, Mei 2016
Waskita Karya Transmisi 150kV Site Office

Comments

Popular Posts