Untuk Ibu dari Ayah
Suatu malam di Ramadhan tahun ini, 2016, 1437 Hijriah, Ayah saya menangis dalam duduknya. Saya dipanggil mendekat. Dengan perasaan tak tentu arah saya duduk di sebelah beliau. Tak tau harus bersikap seperti apa. Pun tak tau ekspektasi apa yang beliau harapkan dari saya.
"Apabila ada waktu untuk membaca Al-Qur'an, niatkanlah untuk Nenekmu, Ibu dari Ayah"
"Nenek hidup di masa belum tersentuh ia oleh pendidikan, bahkan Agama. Tidak sama seperti Atuk dan Nenek dari Ibumu, mereka orang pandai"
Lalu Ayah saya menangis lagi. Tergugu. Seperti ada yang merekah di kepala dan mata, airmata pun ikut memanas keluar dari ujung mata saya, yang sekalipun tak pernah bertemu dengan Nenek dari Ayah.
"Tapi Ayah, saat agama belum sampai pada kita, terlepas dari orang tua kita tidak mengajarkan atau kita tidak mencari ilmu sendiri yang mengakibatkan kita tidak tahu, apa kita tetap berdosa?"
Pertanyaan refleks keluar dari mulutku. Sambil menyeka hidungnya, ayah menjawab,
"Bacakan saja Al-Qur'an untuk Nenekmu, doakan ia dalam kuburnya" Terlihat bahwa Ayah merindukan dan mencintai Ibunya. Namun raga tak lagi dapat bersisian, hanya doa yang bisa mewakili cinta.
Duhai diri, masih ingat dengan tahun-tahun silam? Lima tahun lalu mungkin? Saat dunia serasa runtuh? Saat dini hari melarikan Ayah ke rumah sakit dan menghadapi kenyataan bahwa Ayah koma dalam hitungan bulan? Menghabiskan hari-hari dengan perasaan jantung tak memompa tubuh? Melalui masa-masa dimana dunia dan seisinya tak lagi penting. Kuliah tak lagi penting. Makan dan mandi tak lagi penting? Masih ingatkah? Jelas, semuanya terekam jelas. Segala air mata dan penyesalan itu, segala janj-janji yang terucap saat hati merana.
Bagaimana rasanya akan ditinggalkan oleh orang terkasih? Pernahkah merasakannya?
Dan apabila kehidupan masih berbelas kasih padamu, untuk mengembalikan orang-orang terkasihmu, masih diberikan waktu untuk bisa melihat, menyentuh dan berbicara setiap hari, dengan raga ataupun hanya jiwa, jauh ataupun dekat, namun apabila ia masih berwujud, cintailah ia, mereka.
Pekanbaru, Juli 2016
Pekanbaru, Juli 2016
Comments
Post a Comment